Saturday, August 4, 2012

Pesan Ibuku: Jaga Diri, Hati, dan Shalat!

MENJADI TKW atau BMI bukan keinginan ataupun cita-cita dalam hidupku. Mendengar kata-kata “luar negeri” saja sudah ngeri, apalagi jadi TKW yang bekerja pada orang asing. Entah berapa lamanya tidak bisa bertemu dengan orang-orang tercinta, keluarga tentunya, lalu bagaimana dibatasi atau dikontrak dalam waktu tertentu untuk bisa pulang ke tanah air.
Melihat dan mendengar berita tentang nasib TKW di luar negeri begitu tragis. Ada yang bekerja bertahun-tahun tidak digaji, ada yang dianiaya, dipukuli, bahkan ada yang meniggal dunia akibat jatuh dari apartemen saat bekerja. Ngeri banget dengernya. Karna itulah, dengan keukeuh (ngotot) aku tak mau bekerja ke luar negri.
Semua saudaraku tak ada yang berpindidikan tinggi. Setelah lulus SMP, semua “kabur” dari rumah dengan pamit tentunya, pergi merantau. Mereka mencari kehidupan masing-masing dengan tidak memberatkan beban orang tua lagi, juga untuk masa dpan masing-masing.
Anggota keluargaku cukup besar, 7 bersaudara. Kehidupan kami sederhana. Ibu dan bapakku yang dulu masih bekerja sebagai buruh tani, penghasilannya hanya cukup makan sehari’-hari. Maka dari itu, kakakku yang sudah besar bekerja biar bisa bantu ibu bapak. Aku dan kakakku pun sadar, kalau kami tidak mungkin dapat melanjutkan sekolah lagi. Sampai SMP saja sudah cukup. Malah kakak ”laki” hanya lulusan SD. Bapak dan ibu tak mampu membiayai sekolah kami.
Aku pun setelah lulus SMP “kabur” dengan pamit pada bapak ibu untuk merantau dan bekerja. Tetapi merantauku bukan ke luar negeri seperti kakak yang punya sifat berani. Kakak laki-lakiku bekerja di Malaysia dan kakak perempuanku di Hong Kong. Beda denganku yang penakut, tetep keukeuh tidak ingin kerja di luar negeri.
Akhirnya aku bekerja di Jakarta. Tiap lebaran aku bisa pulang. Bekerja sebagai baby sitter, merawat bayi higgaa anak-anak . Walau gajiku tak seberapa, tapi aku sangat senang bisa cari uang sendiri dan bisa membntu sedikit beban orang tuaku.
Aku sangat menikmati pekerjaanku hingga betah selama 4 tahun. Dengan majikan yang baik, juga Muslim, berjilbab pun tak masalah. Genap 4 tahun aku memutuskan pulang dan tidak kembali ke Jakarta. Entahlah, saat itu belum terpkirkan untuk bekerja lagi. Yang jelas ingn di rumah dulu.
Dua bulan di rumah dengan pengeluaran yang terus menenur, entah kebutuhan sendiri ataupun jajan adik-adikku. Pemasukan pun tak ada. Hufft… Pusing juga!
Kebetulan kakakku yang di Hong Kong nawarin aku kerja di sana. Sudah ada majikan yang mau mengambil aku. Calling Visa. Berarti cuma dibutuhkan waktu 1 atau 2 bulanan untuk segera bisa brangkat.
Aku bimbang, ragu, takut, dan bingung menyikapi tawaran kakaku itu. Hatiku terus bertanya-tanya, bimbang, antara mau tidak. Rasa takut yang slalu menghantui saat kerja di luar negeri membuatku bingung. Di sisi lain, aku harus berubah, memperbaiki kehdupanku. Aku ngga boleh bergantung pada kakak-kakakku. Dengan ke luar negeri, aku bisa menyekolahkan adik-adikku kelak yang tentunya lebih tinggi dari aku.
“Ah, sudahlah, aku mau saja! Siapa tahu aku tak senasib dengan TKW yang ada diberita TV itu,” harapku.
HARI terus berlalu. Aku pun segera memutuskan untuk jadi TKW di Hong Kong dengan izin ibuku yang hanya bisa berpesan: “Jaga diri dan hati, jangan lupa shalat!” Hanya itu pesan ibuku.
Blitar adalah tempatku menjalani proses agar aku bisa berangkat ke Hong Kong. Sambil menunggu visa turun, aku harus cek kesehatan (medical), foto, bikin paspor, dan belajar bahasa.
Sudah menjadi syarat di PT, berambut pendek dan tidak berjijbab. Entah saat itu aku pun merasa tak berdosa melepas jilbabku. Hati kecilku berkata, moga-moga aku dibri panjang umur dan diberi kesmpatan lagi untuk mengenakan jilbab.
Calling visa yang tadinya dikira butuh waktu 1 atau 2 bulan berangkat, ternyata Tuhan berkehendak lain. Majikan yang mau mempekerjakanku meninggal dunia. Akhirnya visaku di-cancel. Aku pun tidak jadi berangkat. Aku harus menunggu dapat majikan lagi. Lima bulan tak terasa, aku tinggal di PT yang begitu kadang membosankan dengan aktivitas sehari-hari. Banyak’-banyak sabar memang, hemmm…
Suatu hari ibu di PT memberi kabar,kalau aku sudah dapat majikan dan butuh cepat. Dua mingguan lagi visaku turun dan segera brangkat. Bahagia sekali aku mendengarnya.
Tepat dua minggu seperti yang diblang ibu PT, aku dipanggilnya. Dengan segera aku menemuinya. Dalam hati, visaku pasti turun. Dengan lembut yang seolah menenangkan, ibu PT berkata, kalau visaku di-cancellagi karena calon majikanku di-PHK dan tentunya tidak bisa menggaji aku.
Mendengar kabar itu, aku pun tak bisa berbicara apa-apa. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku berlari ke ruang tidur dengan isakan tangis. Ingn berteriak, protes, sama Tuhan, kenapa harus dipersulit seperti ini? Aku bingung harus bagaimana. Kakakku pun tak bisa membantu.
Sepertinya aku tidak kuat dan betah lagi tinggal di PT. Aku mulai putus asa. Aku ingn pulang saja! Tapi kalau pulang, orang rumah harus mengeluarkan uang banyak untuk membwaku pulang. Itu tidak mungking! Aku sudah basah, kenapa juga tak berenang sekalian!
Akhirnya aku tetap tinggal di PT. Menunggu dan menunggu lagi. Hari berjalan 9 bulan. Ibarat orang hamil yang sebentar lagi melahirkan, aku mash bertahan menunggu. Ada kabar kembali aku medapatkan majikan lagi. Kali ini aku benar-benar pasrah. Aku tak tahu rencana-Nya lagi. Sudah, kuberserah saja….
Genap 10 bulan (2009) aku di PT dan akhirnya aku bisa berangkat ke Hong Kong.
Di Hong Kong, alhamdulillah aku mendapatkan majikan yang baik, mengerti bahwa aku seorang Muslimah yang tidak dihalalkan makan babi. Aku pun diperbolehkan beribadah sholat. Inilah yang Tuhan rencanakan untukku selama ini.
Dengan pekerjaan yang begitu menyengat di kala musim panas dan dingin yang membeku di kala musim dingin, aku bekerja di dua rumah. Tiap hari aku mondar-mandir berjalan kaki, memakan waktu sekitar 25 menit antara Mongkok- Yaumatei.
Tak terasa berat bagiku. Pekerjaan berat, asal majikan baik, tidak cerewet, tak masalah bagiku.
Dalam satu minggu bekerja ada satu hari libur. Aku dikasih hari biasa, bukan hari Minggu yang mungkin aku dapat berjumpa banyak teman. Hari Jum’at adalah hari liburku. Aku pun mulai bingung, ke mana dan sama siapa?
Ternyata, di Hong Kong ada masjid yang semula tak pernah kuduga. Di masjid itulah aku menemukan banyak teman yang baik. Aku bisa mengikuti kegiatan mereka, seperti mengaji, sholat berjama’ah, bahkan bisa bercanda-tawa dengan mereka.
Sangat berkesan aku bisa mendengar suara adzan yang berkumandang . Yang menggetarkan. Yang mengingatkanku pada kampung halamanku, pada ibuku dulu yang mash ada, juga adik,nenek, esmua yang kusayangi di di rumah.
Waktu tak terasa berjalan cepat. Tak terasa pula jalan tiga tahun aku menjadi BMI di Hong Kong. Dengan segala rahmat dan hidayah-Nya, majikanku mengjinkanku untuk berjilbab. Rasa syukur yang tak terhingga, akhirnya aku bisa mengenakan kembali jilbabku yang sempat terlepas. Moga tetap istiqomah. Amin…!
Untuk selanjutnya, aku pun tak tahu apa yang telah direncanakan-Nya untukku. Aku berusaha menjalani hari-hariku dengan baik. Dialah yang Maha Menentukan. Kita hanya wajib berusaha, berdoa, dan bertawakal kepada-Nya. Amin…!  (Zhianing Anami, BMI Hong Kong).*
Kowloon, Hong Kong, 21 Mei 2012

1 comment:

  1. awesome.... semoga kita sama-sama tetap istiqomah yah...dan semoga kamu senantiasa diberi kemudahan oleh alloh.. aamiin YRA

    ReplyDelete