Saturday, August 4, 2012

Mereka Khawatir Saat Aku Puasa Ramadhan

Oleh ZHIANING ANAMI
Alhamdulillah aku dipertemukan kembali dengan Ramadhan. Tahun ini adalah Ramadhan ketiga kalinya aku di Hong Kong. Ketika memasuki bulan puasa setiap tahunnya aku selalu diberi izin oleh majikan untuk berpuasa, karena jauh-jauh hari sebelumnya, aku sudah bilang kepada mereka bahwa aku adalah muslim dan wajib menjalankan puasa Ramadhan.
Kujelaskan kepada mereka bahwa dalam satu bulan penuh aku tidak diperbolehkan makan dan minum pada siang hari, boleh makan dan minum pada malam saja. Mendengar penjelasanku itu majikanku, nenek juga kakek sempat terkejut, padahal tahun sebelumnya mereka tahu bahwa aku juga pernah melakukannya.
Sebelum mengiyakan (tanda membolehkan) mereka melontarkan banyak pertanyaan, seperti apa kamu kuat, nanti kamu sakit bagaimana, kamu pasti sering haus, cuaca ‘kan sangat panas, nanti pingsan bagaimana. Mereka sepertinya mengkhawatirkanku.
Dengan tersenyum aku menjawab singkat, “Nenek tenang saja, saya sudah terbiasa.” Tanpa harus kujelaskan panjang lebar, akhirnya mereka mengerti dan membolehkanku berpuasa, dengan catatan aku harus bekerja seperti biasa, tak ada perubahan jadwal kerja.
“Jaga sendiri kesehatan tubuhmu agar tetap kuat, tidak lemas sewaktu kerja,” Nenek menasihatiku.
Ketiadaan perubahan jadwal kerja tak masalah bagiku, yang penting mereka tak melarangku berpuasa. Meskipun begitu, mereka sangat mengkhawatirkanku. Mereka membelikanku roti-roti dan susu untuk sahur, dan menyuruhku makan yang banyak sewaktu berbuka. Mereka sangat takut kalau aku sampai sakit atau mati hanya gara-gara tidak makan dan minum seharian. “Padahal, puasa itu kan menyehatkan,” gumamku dalam hati.
Menjalankan ibadah puasa di negeri non-Muslim seperti Hong Kong sangat berbeda dengan dengan di kampung atau di tanah air Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim. Apalagi Ramadhan tahun ini bertepatan dengan musim panas yang sedang puncak-puncaknya, dengan cuaca siang hari yang terik menyengat. Aku membayangkan suasana hening dan damai di tanah air, sahur bersama keluarga, sholat subuh, juga tarawih di mushola, mendegar suara adzan yang saling bersahutan, beraktivitas dan bekerja tanpa paksaan, dan pada siang hari pun tak banyak warung makanan yang buka. Semerbak aroma Ramadhan begitu terasa di kampung halaman sana.
Berbeda sekali dengan Ramadhan di negeri beton ini. Aroma Ramadhan hanya tercium sekilas, karena keadaan yang tetap sama setiap harinya, rutinitas kerja, pemandangan maksiat di mana-mana. Memang, Hong Kong negara bebas, apalagi dalam soal penampilan atau berbusana, juga soal pergaulan. Tanpa sengaja, terkadang mataku memandang yang seharusnya tak boleh dipandang. Selain itu, bau menyengat makanan yang begitu menggoda orang berpuasa, menguar di mana-mana. Suasana damai dan sejuk dari suara adzan mustahil bisa kudengar setiap hari.
HANYA satu kali dalam seminggu aku bisa merasakan situasi yang sedikit mirip di kampung, yakni pada hari liburku. Ya, pada waktu libur aku bisa pergi ke masjid yang dapat kutemui di sini, menghadiri pengajian, mengadakan tadarus bareng, sebagaimana di kampungku.
Seminggu sekali aku juga bisa berbuka puasa bersama teman sesama BMI, makan bersama diiringi canda tawa mereka. Kami akan berbagi makanan, berkumpul makan bersama. Walaupun hanya satu kali dalam seminggu kami bisa mendengar suara adzan dan bisa tertawa bersama teman-teman, itu sudah cukup mengobati rasa rindu akan suasana kampung halaman. Bagaimanapun juga, itulah risikonya jauh dari keluarga, selalu hanya kesepian yang menemani.
Jika di kampung aku bisa dengan mudah menandai jadwal sahur dan berbuka melalui suara adzan yang meriah, di sini tentu saja berbeda. Aku hanya bisa menggunakan jadwal yang tertera di selebaran jadwal puasa, berbuka, dan sahur yang aku dapatkan dari panitia masjid.
Malam begitu hening dan sepi saat aku bangun untuk makan sahur pertama. Semua orang lelap tertidur. Aku makan sahur dengan roti dan segelas susu. Sengaja aku makan yang praktis, tanpa harus memasak dan berisik di dapur, yang akhirnya bisa mengganggu tidur majikanku.
Suasana sepi pada saat sahur itulah yang membawaku pikiranku melayang ke rumah, teringat saat makan sahur bersama adik-adikku, juga nenekku. Aku suka menggoda adikku yang malas bangun. Aku tersenyum sendiri mengingat-ingatnya. Serasa baru kemarin kami masih bersama, tak terasa kami sudah berpisah lama. Rasanya baru kemarin aku masih bersama ibu, rasanya masih bisa kudengar tutur katanya yang lembut walau lewat telepon, “Makan yang banyak, ya Nduk, jaga kesehatan.” Itulah suara ibu yang biasa aku dengar, tapi suara itu kini tak dapat kudengar lagi. Ibu sudah tidur lelap di sana, di tempat yang indah di sisi-Nya.
“Aku rindu.” Bulir air mataku menetes tak tertahankan.
“Mbak, jangan nangis dong, kalau Mbak nangis, Adik juga ikut nangis.” Kata-kata yang sering diucapkan oleh adikku itu seolah-olah baru saja melintas di hadapanku. Segera kuseka air mataku.
Ah, aku tidak boleh menangis, aku tidak mau adikku juga menangis. Bukankah aku berjanji akan membuat mereka selalu tersenyum? Aku harus kuat. Aku juga tidak mau kalau adikku cengeng. Bukankah ustaz di pengajian juga pernah pernah bilang, “Jadi wanita itu harus kuat lembut, jangan lemah lembut.” Kuteguk segelas susu di hadapanku dengan segera. Kulihat jam sudah mendekati imsak dan waktu sholat subuh.
PAGI-PAGI setumpuk pekerjaan sudah menungguku: beres-beres rumah yang berantakan, cuci baju, melap kaca, dan sebagainya. Seperti yang telah ditentukan majikan, tak ada beban kerja yang dikurangi walau puasa. Selesai mengerjakan pekerjaan di rumah satunya, pukul tiga aku harus ke rumah Nenek. Di sini aku kerja di dua rumah.
Langit masih cerah, bersama teriknya mentari yang menyengat kulit saat aku melangkahkan kaki menuju rumah Nenek yang kutempuh dalam waktu 25 menit lamanya. Di pundakku tas belanjaan yang berisi sayur, daging, dan ikan untuk persiapan makan malam. Kebetulan jalan ke rumah Nenek melewati pasar, jadi aku bisa sekalian belanja. Setibanya di rumah Nenek, aku membuka pintu, lalu kutaruh barang belanjaan. Aku duduk sejenak melepas lelah sambil mengusap peluh di keningku. Tiba-tiba Kakek menghampiriku dan menyuruhku minum air.
“Kamu kelihatan haus… minumlah,” kata kakekku menggoda.
“Saya ‘kan puasa.” Aku menolaknya.
“Sedikit saja enggak apa-apa,” kata Kakek lagi.
“Tidak boleh, belum waktunya,” jawabku sambil mencuci sayur di dapur.
Eh, Kakek menyusulku ke dapur, membuka kulkas, dan mengambil es krim, lalu menyodorkannya kepadaku.
Hmm, si Kakek bener-bener menggodaku. Lagi-lagi aku menolaknya. Si Kakek memang bener-bener lucu.
Kuakui, aku termasuk beruntung bekerja di keluarga ini. Alhamdulillah, majikanku baik. Meskipun pekerjaanku berat, yang penting aku bisa bebas melakukan kewajibanku sebagai Muslim, tidak dilarang dalam berpuasa dan sholat.
Aku mensyukuri ini adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepadaku. Banyak juga temanku yang bebas beribadah tanpa larangan, tapi banyak juga teman-temanku yang kurang beruntung alias sulit melakukan ibadah puasa dan sholat. Seperti yang dialami oleh temanku, Mbak Inna.
Dia adalah teman baikku sejak di PT sampai di sini. Kami senasib seperjuangan. Dia lebih tua ketimbang aku, sudah menikah, tapi berpisah, dengan dikaruniai seorang anak laki yang sekarang sudah sekolah. Mbak Inna mendapatkan majikan yang sangat cerewet. Dia tak dibolehkan berpuasa ataupun sholat. Meskipun Mbak Inna sudah berusaha menjelaskannya, tetapi tetap saja tidak boleh. Kata majikannya, kalau puasa nanti akan mati. Majikan bilang tidak ya tidak. Mbak Inna tak bisa mengelak lagi, karena memang Mbak Inna tak mau bikin masalah, dia sudah capek dengan pekerjaan rumahnya yang setiap harinya kena komplain. Dia tak diperbolehkan pegang HP, tiap hari hapenya dibawa si bos kerja. Jadi, tiap hari hapenya ngantor. Dia diberi libur cuma satu kali dalam sebulan, itu pun masih dibatasi waktu liburnya.
Meskipun demikian, Mbak Inna tetap berpuasa dengan sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan majikan. Aku sering membangunkannya pada waktu sahur. Meskipun letih karena baru saja memejamkan mata, dia tetap bangun. Terkadang, pukul 1 bahkan pukul 2 malam, dia baru selesai bekerja. Tapi dia selalu berusaha untuk berpuasa. Meskipun sebenarnya tidak betah bekerja di keluarga itu, tapi dengan niat yang kuat demi mengumpulkan uang untuk biaya sekolah anaknya, dia berhasil melewati masa kontrak dua tahun.
Selama dua tahun itu pula dia menjalankan puasa secara sembunyi-sembunyi. Setelah dua tahun terlewati dan Mbak Inna selesai kontrak, kini dia mendapatkan majikan baru yang lebih baik, dan sekarang dia bebas menjalankan puasa, majikannya yang sekarang juga tidak melarangnya untuk mengenakan jilbab. Dia sangat bersyukur kepada Allah, doanya kini telah terjawab. Janji Allah itu benar, bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.
“Sedih dan terharu jika mengingat masa-masa itu. Begitu susahnya menjalankan ibadah di negeri orang. Dua tahun cukup lama, seperti dipenjara. Selama itu hanya beberapa kali saja aku bisa mendegar suara dari ibu dan anakku. Apalagi saat Ramadhan tiba. Hanya air mata yang menjadi teman bicara. Ah, sudahlah, kini semua telah terlewati. Tuhan sudah memberikan apa yang aku minta. Yang terpenting yang kita lakukan sekarang ini adalah bersyukur dan mempertahankan semua ini sebaik-baiknya, Aning,” begitulah jawab Mbak Inna sewaktu aku bertanya apa yang dia rasakan dalam bulan Ramadhan ini.
Mbak Inna benar, mungkin saat ini kami adalah orang yang beruntung, bisa bebas menjalankan ibadah tanpa ada larangan, tidak seperti banyak teman-teman kami yang mungkin saja sedang diuji oleh Tuhan. Sudah seharusnya kami bersyukur dan mempertahankan semua yang diberikan oleh-Nya kepada kami dengan sebaik-baiknya.
Namun, terlepas dari keberuntungan-keberuntungan yang kudapatkan selama menjalankan puasa di sini, seandainya bisa memilih, aku tetap ingin menjalankan puasa bersama keluarga, saudara, dan orang-orang terdekatku. Ada sesuatu yang tetap tak tergantikan, seberuntung apa pun aku di sini. Semoga, saat itu akan tiba nanti, saat aku tak perlu lagi berada jauh dari mereka. Aamiin (Zhianing Anami, BMI Hong Kong).*

No comments:

Post a Comment